Scaller, sebuah band beraliran Alternative Rock yang digawangi Stella Gareth dan Reneey Karamoy saat ini bisa dibilang sedang melejit. Permainan gitar dari Reneey, vokal dan synth Stella, serta tabuhan drum dari Enrico Jumat lalu mampu membuat pendengar merasakan atmosfer karakter yang kuat dari band ini.
Mendengar kata smoking room pasti yang terlintas adalah tempat sempit penuh asap rokok. Saya pribadi memang bukan perokok, dan jujur saya selalu menghindari area smoking room jika berkunjung ke restaurant atau cafe. Namun ada yang berbeda di smoking room LOKAL Hotel & Restaurant.
LOKAL Hotel & Restaurant sendiri merupakan hotel yang memiliki restaurant yang terletak di kawasan Jembatan Merah, Gejayan, Yogyakarta. Tempat ini terkenal dengan interiornya yang unik dengan lukisan kawung berwarna-warni. Ada dua area di restaurant ini, yang pertama adalah area no smoking atau yang terletak di dalam, dan area smoking room yang bersebelahan dengan dapur.
Area smoking room sendiri adalah area kecil yang memiliki 4 meja. Namun tempat ini adalah tempat kesukaan saya karena tampat ini sejuk dan tidak seramai di dalam. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di tempat ini untuk sekedar menulis atau bersantai karena area ini biasanya sepi. Tidak ada kesan sumpek ataupun penuh asap rokok di area ini. Saya merasa lebih private dan lebih tenang jika memilih area smoking room di LOKAL Hotel & Restaurant ini. Namun jika datang beramai-ramai, sebaiknya memilih tempat di dalam karena lebih leluasa dan interiornya tidak kalah menarik dari area ini.
Regards,
- S -
Lokasi:
Jalan Jembatan Merah NO.104C, Daerah Istimewa Yogyakarta
Perkenalan saya dengan Papricano berawal ketika saya sedang mencari tempat makan di kawasan Prawirotaman-Tirtodipuran. Kedai kecil yang terletak di sisi selatan jalan ini begitu menarik dari luar karena dari luar saja sudah terlihat interior yang berwarna-warni. Namun sayang, karena saat itu hari masih siang, Papricano masih tutup dan baru buka pukul 5 sore.
Makanan yang disediakan di Papricano tergolong makanan ringan seperti taco dan burrito. Harga yang ditawarkan bekisar 25-40 ribu rupiah. Tergolong standar untuk rasa yang menurut saya enak dan suasana yang menyenangkan. Dalam sebulan, saya bisa dua hingga tiga kali mengunjungi tempat ini untuk sekedar nongkrong atau mencari ganjalan perut.
Regards,
- S -
Lokasi:
Jl. Tirtodipuran No.38, Mantrijeron, Kota Yogyakarta
Pantai Wediombo merupakan satu dari puluhan pantai yang berjejer di kawasan Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebenarnya saya sudah dua kali mengunjungi pantai Wediombo. Awalnya, saya menolak ajakan mengunjungi pantai ini karena pantai ini menurut saya "jelek" dan tidak masuk jajaran pantai yang menjadi favorite saya. Namun, teman saya mengatakan bahwa di pantai ini terdapat sebuah laguna yang menjadi tempat snorkeling dan berenang. Karena tertarik dengan ajakan tersebut, akhirnya saya mengiyakan untuk touring ke pantai Wediombo.
| Berendam di Laguna |
| Perjalanan ke Wediombo |
Perjalanan dari kota Yogyakarta menuju pantai Wediombo kurang lebih 2 jam dengan mengendarai motor. Setelah melewati kota Wonosari, kita disuguhi pemandangan apik yang dikelilingi perbukitan sebelum masuk ke kawasan pantai. Di sepanjang jalan juga terdapat orang berjualan belalang goreng yang saat ini menjadi jajanan yang populer di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Wonosari. Oiya, pantai Wediombo ini terletak di ujung timur sebelum pantai Sanden. Untuk yang sering berkunjung ke pantai Sundak ataupun Baron, jalan ke pantai Wediombo sedikit berbeda. Namun jangan khawatir karena sudah banyak penanda jalan yang dipasang menuju pantai ini.
Pantai Wediombo merupakan pantai yang terkenal dengan batu-batuan yang banyak menghiasi pantainya. Untuk dapat berenang di laguna, kita harus berjalan melewati pinggir pantai ke sebelah timur di balik tebing. Beberapa warung penduduk di sekitar pantai menawarkan jasa snorkeling untuk menikmati laguna di pantai ini. Namun, saya dan teman-teman memilih untuk tidak memakai jasa tersebut karena sudah membawa kaca mata renang dan action cam sendiri.
| Menyusuri Pantai |
| Menuju Laguna |
| Laguna |
Regards,
- S -
NOTE :
Video pantai Wediombo bisa dilihat di sini
TIPS :
1. Gunakan sunblock saat berjemur ataupun berenang untuk menghindari sunburn.
2. Bawalah actioncam seperti GoPro atau XiaomiYi agar dapat mendokumentasikan aktivitas kalian disana dengan lebih mudah. Namun jika tidak punya actioncam, beberapa penduduk lokal sudah menyediakan penyewaan actioncam.
3. Jangan khawatir jika tidak bisa berenang, karena tinggi laguna hanya sekitar 170cm, dan warung-warung di sekitar pantai wediombo menyediakan jasa snorkeling jika ingin mengeluarkan uang lebih.
4. Tidak ada lifeguard di laguna ini, so, swim with your own risk.
5. Tetap jaga kebersihan di tempat ini karena tidak ada tong sampah di sini.
6. Datanglah saat tidak libur panjang agar bisa menikmati laguna ini saat sepi.
| pemandangan sekitar bukit diambil dari Kukusan 1 |
Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten di Yogyakarta yang memiliki potensi wisata alam yang menarik. Seminggu yang lalu, aku dan ke-6 temanku mencoba menikmati sunrise dari bukit Kukusan yang terletak di kecamatan Samigaluh. Bukit Kukusan ini berada dekat dengan kebun teh Nglinggo.
Perjalanan dimulai pukul empat pagi dari Kota Jogja. Rute menuju bukit Kukusan adalah dari Kota Yogyakarta (ambil arah Jalan Godean – Jembatan Sungai Progo – Perempatan Kenteng (ambil kanan) – Perempatan Dekso (ambil kiri) – Balai Desa Purwoharjo – Balai Desa Gerbosari – Balai Desa Ngargosari - Pertigaan Plono (Pasar), ambil kanan – Kebun Teh Nglinggo (sumber).
Waktu itu kami membutuhkan waktu +- 1,5 jam untuk sampai di kebun teh Nglinggo. Jalan untuk sampai ke kebun teh ini mayoritas menanjak, jadi harus benar-benar memperhatikan kondisi kendaraan sebelum melakukan perjalanan.
|
|
| Lokasi Parkir |
| sunrise dari Kukusan 1 |
| Kukusan 1 |
| Kukusan 1 |
Karena waktu itu bukit Kukusan sedang sepi, kita memutuskan
untuk berjalan lagi ke Kukusan 2. Bukit Kukusan 2 memiliki puncak yang lebih
luas dan terdapat bangku untuk menikmati pemandangan. Saranku, untuk mendapatkan
foto yang bagus, kita bisa mengambil gambar dari Kukusan 1 mengarah ke Kukusan
2 seperti foto di bawah ini.
Setelah puas berfoto di bukit Kukusan 1 dan 2, kami
memutuskan untuk berjalan – jalan di sekitar kebun teh. Pada waktu kami ke
tempat ini, daerah ini sepi pengunjung sehingga kami bebas mengambil gambar di
jalanan dan di kebun teh tersebut. Kami berniat membeli teh dari salah satu
warung di sekitar sini, namun karena waktu itu hari masih pagi, belum ada penjual
yang membuka warungnya, jadi kami membatalkan niat kami untuk mencoba teh asli
sini. Tapi, pada siang hari, ada banyak penjual makanan dan minuman yang
menjajakan dagangannya. Jadi, tidak perlu khawatir kelaparan atau kehausan. Kalo yang mau kesini aku saranin pagi - pagi, biar bisa liat sunrise sekaligus udaranya masih seger :)
Regards,
- S -
Baru aja puulang, ngga bisa tidur dan mutusin buat langsung bikin postingan baru. Jadi kemarin (25/05) aku ikut trip dari JOGSS untuk pelepasan lampion di Borobudur. Sebenernya udah lama ada niatan tapi baru bisa terlaksana tahun ini. Acara ini dilaksanakan menyambut hari raya Waisak.
Berangkat dari meeting point sekitar jam 08.30 dan sampe di Mendut jam 10an. Kita jalan kaki dari parkiran nyampe mendut, sekitar 1 km. Disana lagi ada prosesi detik" Waisak, semacam meditasi dan setelah detik" para biksu bakal muter sekaligus mercikin air ke umat yang ada disana.
Setelah prosesi itu, ada prosesi lagi semacam kirab dari candi Mendut ke Borobudur, karena crowded dan ngga ada tranport, kita ikutan jalan kaki juga tapi di barisan umat, hahaha.
Disini aku mulai kenalan sama orang" yang se-trip. Kebanyakan dari Jakarta. Ada kak Michelle, kak Median & kak Evi dari BCA Finance Jakarta yang kebetulan lagi ada tugas di Solo. Ada kak Ramsis, seorang consultant yang tinggal di Jogja. Juga kak Icha & kak Komang yang jadi fasilitatornya. Over all mereka nyenengin, dan banyak banget pelajaran yang didapet dari mereka.
Sampe di Borobudur masuk lewat VIP Manohara, super crowded dan panas banget, tapi masih excited. Di dalem nyari tempat yang cozy buat tiduran karena prosesi masih lama. Akhirnya dapet tempat tiduran yang sepi & view Borobudurnya bagus.
Sekitar jam 6 kami naik ke pelataran candi karna ada info pintu masuk utama bakal ditutup, jadi cepet"an + desek"an sama petugas. Kami masuk bareng biksu. Ternyata diatas juga udah full. Kami muter nyampe depan panggung & ketabrak antrian orang yang mau beli lampion. Oiya, harga 1 lampion itu donasi minimal 100ribu. Dan ternyata waktu kak Komang beli, tanda buktinya cuma satu tempelan label harga yang gede, bingo!
Setelah jalan beberapa saat, dapet spot lumayan jauh dari depan panggung, tapi pikiran kita kalo misalnya cuma mau lihat lampion dari spot itu udah keliahatan jelas. Jadilah kita nunggu duduk" disitu ngelihatin orang lalu lalang. Sekitar 2 jam nunggu, acara belum juga dimulai, ternyata masih nunggu mentri Agama yang masih on the way, sedangkan cuaca udah mulai jelek. Gerimis berubah ujan dan semakin banyak orang berdatangan. Kak Median ngajak buat ke bis, karena menurutnya itu realistis. Soalnya ngga bisa mbayangin kalo ujan tambah deres & lautan orang dimana-mana. Jadilah kami berempat -aku, kak Michelle, kak Median, kak Evi- lari ke bis ngelawan arus. Di jalan mau ke bis, ternyata papasan sama pak Mentri. Dari jauh kami denger begitu Mentrinya dateng langsung disorakin sama semua pengunjung. Kami sampe ketawa" di jalan.
Akhirnya nyampe di bis, cuma ada supir sama kondekturnya. Ujan tambah deres dan untungnya kami udah nyaman di bis. Ternyata view dari bis malah lebih bagus, karena deket kandnag gajah hotel Manohara. Eh ngga berapa lama, rombongan yang lain juga pada balik ke bis karena ngga tahan sama Ujannya. Terus ada pengumuman kalo lampion ngga bisa diterbangin karena hujan. Sedih sih ngga bisa liat lampion yang tak tunggu", tapi akayaknya ngga bakal mau ngulangin kesana lagi. Realistis aja sih, kasian umat Budha & para Bhiksu yang kau kusyuk ibadah malah keganggu sama wisatawan. Contohnya tadi, ada bhiksu yang lagi meditasi, tapi disampingnya ada wisatawan yang cerita & ngakak", bhiksunya kebangun. Waktu dia mau fokus mejamin mata, dia ngga bisa", dan wiasatawan itu nga sadar. Cuma bisa miris liat dari jauh.
Overall, karena yang aku pentingin bukan tujuan, tapi pengalaman, trip ini menyenangkan walaupun fail. Nambah temen, nambah pengalaman, nambah ilmu juga. Lain kali kalo mau kesini, hidari jam" crowded dan cari tau jadwal biar dateng pas pintu ngga ditutup. Oiya, masuknya gratis kok kalo dapet ID peserta/pers/fotografer dari Walubi. Tinggal hubungi Walubi aja atau dateng ke Mendhut pagi". Dan satu lagi, jangan ganggu yang lagi ibadah ya. Bagaimanapun juga, ini kan acara sakral mereka, hormati mereka, beri mereka waktu untuk beribadah :) Selamat hari Minggu!












